Rejuvenating Tea Treatment, Tea for Your Mind & Body

ZODIAK ANDA


CANCER
(11 Juli - 17 Juli)

Hanya bila Anda bisa mengimbangi lawan bicara maka Anda tidak akan terseret dalam masalah yang besar. Kali ini memang tampaknya Anda harus memberanikan diri untuk berbicara mewakili diri Anda. Jangan terlalu takut bahwa orang lain akan tersinggung, ungkapkan saja apa yang ada di dalam pikiran Anda dengan cara yang tenang tentunya.

Selengkapnya...

17 Jul, 2011


--
Source: http://woman.kapanlagi.com/body-and-mind/segar-dan-rileks/9396-rejuvenating-tea-treatment-tea-for-your-mind-body.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Baca selengkapnya - Rejuvenating Tea Treatment, Tea for Your Mind & Body

ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN KEPERAWATAN: "ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

  1. manajemen keperawatan anak
  2. manajemen konflik
  3. pendokumentasian keperawatan
  4. pengawasan
  5. perilaku organisasi
  6. actuating
  7. budgetting
  8. kepemimpinan
  9. kuesioner manajemen nurse

"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN KULIT

ASUHAN KEPERAWATAN KULIT: "

ASUHAN KEPERAWATAN KULIT

  • Askep pemfigus vulgaris
  • Askep eritroderma
  • Askep lupus

"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN KULIT

ASUHAN KEPERAWATAN THT

ASUHAN KEPERAWATAN THT: "

ASUHAN KEPERAWATAN THT

  1. Askep OMSK (otitis media supuratif kronik)
  2. Askep otitis media acut
  3. Askep Presbiakusis
  4. Askep angio fibroma
  5. Askep ca nasofaring
  6. Askep faringitis
  7. Askep sinusitis
  8. Askep tumor laring
  9. tumor cavum nasi
  10. Askep septum deviasi


"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN THT

ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI

ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI: "

ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI


  1. Askep Stroke non hemorhagic
  2. Askep stroke hemorhagic
  3. Askep tumor medula spinalis
  4. Askep otak
  5. Askep cefalgia
  6. Askep hnp (hernia nukleus purposus)
  7. Askep low back pain
  8. Askep meningitis
  9. Askep migrain
  10. Askep penurunan kesadaran
  11. Askep sol


"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI

ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK: "ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

n INFEKSI OTAK
n Jaringan otak Bakteri
n Selaput otak virus
n Medula spinalis Jamur

Meningitis
Encephalitis
Abses otak
n MENINGITIS
n Radang pd meningen
n Disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur
n Meningitis : asepsis, sepsis, & tuberkulosa
n M. aseptic
salah satu meningitis virus, disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah di ruang sub arakhnoid
n M. sepsis
disebabkan oleh meningokokus, stafilokokus atau basilus influensa
n M.tuberkulosa
disebabkan oleh basilus tuberkel
n MENINGITIS BAKTERI
n Paling signifikan. 75 % kasus
n Neiserria meningitis / m. meningokokus
n Streptococcus pneumoniae : pd dws
n Haemophilus influenzae : anak2 & dws muda
n Penularan mll ; droplet & sekret dr hidung & tenggorok
n Insiden tertinggi : bakteri gram negatif
n Patofisiologi
n Infeksi orofaring
n Organisme msuk dlm alirah darah & menyebabkan reaksi radang dlm meningen & di bwh daerah korteks
n Trombus & penurunan alirah darah serebral
n Gg metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis, & hipoperfusi
n Eksudat menyebar sampai dasar otak & medula spinalis
n Manifestasi Klinis
n Sakit kepala & demam
n Perub. Tingkat kesadaran
n Tanda iritasi meningen
n Fotofobia
n Kejang & peningkatan TIK
n Ruam
n Infeksi fulminating
n Tanda iritasi meningen
n Rigiditas nukal : spasme otot2 leher
n Tanda Kernig (+) : ps dibaringkan dgn paha fleksi ke arah abdomen, kaki tdk dpt diekstensikan sempurna
n Tanda Brudzinski : leher ps di fleksikan, dihasilkan fleksi lutut & pinggul; bl dilakukan fleksi pasif pd ekstremitas bwh pd salah satu sisi, gerakan yg sama terlihat pd sisi yg lain
n Infeksi fulminating
n Pd m. meningokokus
n Tanda septikemia : demam tinggi tiba2, lesi purpura menyebar (wajah & ekstremitas), syok,& tanda2 koagulopati intravaskuler diseminata
n Pemeriksaan Diagnostik
n Kultur CSS
n Kultur darah
n CIE (Counterimmunoelectrophoresis) : deteksi antigen bakteri pd cairan tubuh ( CSS & urin)
n Penatalaksanaan
n Antibiotik
n Cairan
n Anti kejang
n Diuretik osmotik
n ABSES OTAK
n Kumpulan unsur2 infeksius dlm otak
n Tjd mll invasi otak langsung dr trauma intrakranial / pembedahan,
n Mll penyebaran infeksi dr daerah lain spt sinus, telinga, gigi
n Mll penyebaran infeksi dr organ lain : abses paru, endokarditis
n Komplikasi beberapa bentuk meningitis
n Manifestasi klinik
n Dr perubahan dinamika intrakranial (edema, pergeseran otak), infeksi, atau lokasi abses
n Sakit kepala, muntah
n Tanda neurologik fokal; kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan (tgt tempat abses)
n Perubahan status mental; letargi, peka, disorientasi
n Pemeriksaan Diagnostik
n Pengkajian neurologik
n CT Scan
n Penatalaksanaan
n Menghilangkan abses; antimikroba, pembedahan/aspirasi
n Menuruknan radang edema otak : kortikosteroid
n Anti konfulsan
n ENCEPHALITIS
n Peradangan otak
n Diagnosisnya dpt ditegakkan mll px. mikroskopis jaringan otak

n Etiologi
n Bakteri
n Cacing
n Jamur
n Virus : terpenting & tersering
n Klasifikasi virus
n Epidemik :
Gol enterovirus : poliomyelitis, virus echo
Gol arbo virus : western equine encephalitis, eastern equine encephalitis
n Sporadik : rabies, herpes simplek, herpes zooster, limfogranuloma, mumps, chorio meningitis
n Pasca infeksi : morbili, varisela, rubella, mononukleosis infeksius, infeksi traktus respiratorius
n Manifestasi Klinis
n Demam
n Sakit kepala
n Pusing
n Muntah
n Nyeri tenggorokan
n Malaise
n Nyeri ekstremitas
n Pucat
n Tergantung distribusi & luas lesi pd neuron
n Gelisah, iritabel, screaming attack, perubahan perilaku, gg kesadaran, kejang
n Tanda neurologis : afasia, hemiparesis, hemiplegi, ataksia & paralysis saraf otak
n Patofisiologi
n Virus masuk mll kulit, sal nafas & sal cerna
n Menyebar dlm sistem limfatik & msk aliran darah
n Infasi ke dlm susunan saraf pusat
n Respon imun & peradangan menyebabkan edema & peningkatan TIK
n Destruksi jaringan saraf, kerusakan pembuluh darah & perivaskular
n Pemeriksaan Diagnostik
n Analisa CSS
n CT Scan
n MRI
n EEG (electro ensefalografi)
n Darah
n Penatalaksanaan
n Anti konfulsan
n Antipiretik
n Kortikosretoid : utk edema otak
n PROSES KEPERAWATAN
n Pengkajian
n Analisa data
n Diagnosa keperawatan
n Perencanaan
n Implementasi
n Evaluasi
n Pengkajian
n Aktifitas / istirahat
Malaise, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter
n Sirkulasi
Riwayat kardiopatologi, tekanan darah meningkat, takikardi, disritmia
n Eliminasi
Inkontinensia atau retensi
n Makanan / cairan
Kehilangan nafsu makan, kesulitan menelan, anoreksia, muntah, turgor jelek, membran mukosa kering
n Higiene
Ketergantungan keb. perawtan diri
n Neurosensori
Sakit kepala, parestesia, kehilangan sensasi, kejang, gg penglihatan, letargi, afasia, hemiparese/hemiplegi, tanda brudzinski, tanda kernig, rigiditas nukal
n Kenyamanan
Sakit kepala, kaku leher, fotosensitifitas, nyeri tenggorok,
n Pernafasan
Riwayat infeksi sinus /paru, perub. mental & gelisah
n Keamanan
Riwayat infeksi nafas, telinga & gigi, pembedahan, imunisasi, terpajan campak, herpes simpleks,peningkatan suhu, ada ras, kelemahan umum . Gg sensasi
n Diagnosa Keperawatan
n Resiko tinggi infeksi b.d diseminata hematogen dr patogen
n Resiko tinggi Perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral
n Resiko tinggi trauma b.d kelemahan umum
n Gg rasa nyaman : nyeri b.d proses inflamasi
n Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler
n Perubahan persepsi sensori : ….. B.d perubahan resepsi sensori, transmisi / integrasi
n Ansietas b.d krisis situasi
n Kurang pengetahuan b.d kurang pemajanan, kesalahan interpretasi
n Resiko tinggi infeksi b.d diseminata hematogen dr patogen
Intervensi :
n Berikan tindakan isolasi sbg tindakan pencegahan
n Pertahankan teknik aseptik & teknik cuci tangan yg tepat baik ps, pengunjung, maupun staf. Pantau & batasi pengunjung/ staf ss kebutuhan
n Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda2 klinis dr proses infeksi
n Teliti adanya keluhan nyeri dada, disritmia, demam yg terus menerus
n Auskultasi suara nafas. Pantau kecepatan & usaha pernafasan
n Ubah posisi ps dgn teratur & anjurkan utk melakukan nafas dlm
n Catat karakteristik urin
n Identifikasi kontak yg beresiko thd perkembangan proses infeksi serebral
n Kelola pemberian terapi antibiotika IV ss indikasi
n Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral
Intervensi :
n Pertahankan tirah baring dgn posisi kepala datar & pantau tanda vital ss indikasi
n Pantau status neurologis dgn teratur & bandingkan dgn keadaan normalnya
n Kaji adanya rigiditas nukal, gemetar, kegelisahan yg meningkat, peka rangsang & adanya kejang
n Pantau tanda vital
n Pantau frekuensi/irama jantung
n Pantau pernafasan, catat pola & irama pernafasan
n Pantau suhu & atur suhu lingkungan ss kebutuhan
n Pantau masukan & haluaran. Catat karakteristik urin, turgor kulit & keadaan membran mukosa
n Bantu ps utk berkemih/ membatasi batuk, muntah, mengejan.
n Berikan tindakan yg menimbulkan rasa nyaman, spt masase punggung, lingkungan yg tenang
n Berikan waktu istirahat antara aktifitas perawatan
n Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajad ss indikasi. Jaga posisi kepala tetap pd posisi netral
n Kelola pemberian vairan IV
n Pantau BGA
n Kelola pemberian medikasi
n Resiko tinggi trauma b.d kelemahan umum
Intervensi :
n Pantau adanya kejang pd tangan, kaki & wajah
n Berikan keamanan pd ps dgn memberi bantalan penghalang tempat tidur
n Pasang jalan nafas buatan
n Pertahankan tirah baring selama fae akut
n Kolaborasi & kelola pemberian anti konvulsan
n Gg rasa nyaman : nyeri b.d prose inflamasi
Intervensi :
n Berikan lingkungan yg tenang
n Tingkatkan tirah baring, bantu kebutuhan perawatan diri
n Kompres dingin kepala & mata
n Dukung ps utk posisi yg nyaman
n Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif scr tepat & masase otot daerah bahu/leher
n Kolaborasi pemberian anlgesik
n Ansietas b.d krisis situasi
Intervensi :
n Kaji status mental & tingkat ansietas dr ps/klg
n Berikan penjelasan
n Hubungan antara proses penyakit & gejalanya
n Jelaskan & persiapkan utk tindakan prosedur sblm dilakukan
n Berikan kesempatan ps utk mengungkapkan isi pikiran & perasaan takutnya
n Libatkan ps/klg dlm perawatan
n Berikan dukungan thd perencanaan gaya hidup ss kemampuan ps
n Berikan petunjuk sumber2 penyokong yg ada, spt klg, konselor profesional
n Lindungi privasi ps
n Kurang pengetahuan b.d kurang pemajanan
Intervensi :
n Berikan informasi yg singkat & sederhana
n Diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yg lama
n Berikan informasi mengenai kebutuhan diet TKTP utk proses penyembuhan
n Instruksikan utk terus latihan rentang gerakscr bertahap
n Diskusikan pentingnya istirahat yg adekuat
n Kaji ulang pengobatan yg diberi & tekankan utk mengkonsultasikan kesehatannya
n Diskusikan pencegahan proses penyakit ss kebutuhan
n Berikan penjelasan ulang mengenai timbulnya tanda & gejala yg membutuhkan penanganan medis segera
n Tekankan pentingnya evaluasi ulang & terapi rawat jalan secara rutin
n Identifikasi sumber2 penyokong yg ada di masyarakat
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
Baca selengkapnya - ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

ASUHAN KEPERAWATAN MATA

ASUHAN KEPERAWATAN MATA: "ASUHAN KEPERAWATAN MATA

  1. Askep Trauma tembus mata
  2. Askep ulkus kornea
  3. Askep Infeksi pada mata
  4. Tumor Orbita
  5. Askep ablasio retina
  6. Askep glaukoma
  7. Askep hifema
  8. Askep katarak
  9. Askep Neuroma Orbita

"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN MATA

ASUHAN KEPERAWATAN ICU

ASUHAN KEPERAWATAN ICU: "ASUHAN KEPERAWATAN ICU

  1. Askep ARDS + Sepsis
  2. Askep asam basa
  3. Askep Paratiroidectomy
  4. Askep payah jantung
  5. Askep pneumonia + Gagal nafas
  6. Askep respiratory failure
  7. Askep Tetani
  8. Askep Trauma Thoraks
  9. Askep VSD
  10. materi BGA
  11. Askep ventilasi mekanik
  12. Askep ca paru-ventilaror
  13. Askep AMI
  14. Askep Ca Paru & Ventilator
  15. Askep cedera kepala
  16. Askep cva infark
  17. Askep diabetes ketossidosis

"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN ICU

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT DALAM

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT DALAM: "

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT DALAM

  1. Askep Hepatitis
  2. Askep Hipertensi
  3. Askep intoksikasi baygon (organofosfat)
  4. Askep osteo arthritis
  5. Askep PJB
  6. Askep Pneumonia
  7. Askep PPOM
  8. Askep Sirosis Hepatis
  9. Askep SLE
  10. Askep Gegantisme
  11. Askep Gout
  12. Askep Hematomesis melena
  13. Fisiologi jantung
  14. nebulezer
  15. hepatoma
  16. leaflet DM
  17. Leaflet rematik
  18. kesehatan lansia
  19. Nyeri
  20. Askep Syock
  21. Askep TB Paru & Hemophtoe
  22. Askep TBC
  23. Askep Tetani
  24. Askep Thalasemia
  25. Askep Tumor Paru
  26. Askep Ventrikel septum defek
  27. Askep Batuk darah
  28. Askep Leptospirosis
  29. Abses paru
  30. cairan dan elektrolit

  1. efusi pleura maligna
  2. flu burung
  3. Insulin
  4. hemangioma
  5. Hemostas
  6. Drug eruption
  7. Leptospirosis
  8. Rematik
  9. Askep HIV-Aids
  10. Askep Post CABG
  11. Askep IMA & chf
  12. Askep IMA
  13. Askep angina pectoris
  14. Askep asthma
  15. Askep bronkiektasis
  16. Askep broncho pneumonia
  17. Askep ca paru
  18. Askep chest pain
  19. Askep chf
  20. Askep ckd
  21. Askep decomp cordis
  22. Askep delated cardiomiopathy
  23. Askep DHF
  24. Askep Diabetes mellitus
  25. Askep Empiema
  26. Askep endo carditis
  27. Askep gagal ginjal kronis
  28. Askep gagal ginjal acut
  29. Askep gagal jantung
  30. Askep gastro enteritis

"
Baca selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT DALAM

Askep Sifilis

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SIFILIS

A. PENGERTIAN

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini sangat kronik, bersifat sistemik dan menyerang hampir semua alat tubuh.

B. ETIOLOGI

Penyebab penyakit ini adalah Treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.

C. EPIDEMIOLOGI

Asal penyakit tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15 terjadiwabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat. Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun 1946, kemudian menurun setelah itu.

Kasus sifilis di Indonesia adalah 0,61%. Penderita yang terbanyak adalah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.

D. PATOFISIOLOGI

1. Stadium Dini

Pada sifilis yang didapat, Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui senggama. Kuman tersebut berkembang biak, jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum dan sel-sel radang. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan berkembang biak, terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8 minggu setelah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya. Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatrik. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang. Timbul stadium laten. Jika infeksi T.pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh, kuman akan berkembang biak lagi dan menimbulkan lesi rekuren. Lesi dapat timbul berulang-ulang.

2. Stadium Lanjut

Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala.

F. KLASIFIKASI dan GEJALA

Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis akuisital (didapat). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum dua tahun), lanjut (setelah dua tahun), dan stigmata. Sifillis akuisita dapat dibagi menurut dua cara yaitu:

- Klinis (stadium I/SI, stadium II/SII, stadium III/SIII) dan

- Epidemiologik, menurut WHO dibagi menjadi:

1. Stadium dini menular (dalam satu tahun sejak infeksi), terdiri atas S I, S II, stadium rekuren, dan stadium laten dini.

2. Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut dan S III.

GEJALA KLINIS

Sifilis Akuisita

1. Sifilis Dini

a. Sifilis Primer (S I)

b. Sifilis Sekunder (S II)

2. Sifilis Lanjut

G. DIAGNOSA BANDING

1. Stadium I

§ Herpes simplek

§ Ulkus piogenik

§ Skabies

§ Balanitis

§ Limfogranuloma venereum (LGV)

§ Karsinoma sel skuamosa

§ Penyakit behcet

§ Ulkus mole

2. Stadium II

§ Erupsi obat alergik

§ Morbili

§ Pitiriasis rosea

§ Psoriasis

§ Dermatitis seboroika

§ Kandiloma akuminatum

§ Alopesia areata

3. Stadium III

§ Sporotrikosis

§ Aktinomikosis

H. PENCEGAHAN

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

1. Tidak berganti-ganti pasangan

2. Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan ‘protective sex’.

3. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi.

I. PENATALAKSANAAN

Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500 mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.

Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.

J. PROGNOSIS

Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya penisilin. Jika penisilin tidak diobati, maka hampir seperempatnya akan kambuh, 5% akan mendapat S III, 10% mengalami sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, dan 23% akan meninggal.

Pada sifilis dini yang diobati, angka penyembuhan mencapai 95%. Kelainan kulit akan sembuh dalam 7-14 hari. Pembesaran kelenjar getah bening akan menetap berminggu-minggu.

Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I dan S II. Kambuh klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada mulut, tenggorokan, dan regio perianal. Selain itu, terdapat kambuh serologik.

Pada sifilis laten lanjut, prognosis baik. Pada sifilis kardiovaskuler, prognosis sukar ditentukan. Prognosis pada neurosifilis bergantung pada tempat dan derajat kerusakan.

Sel saraf yang sudah rusak bersifat irreversible. Prognosis neurosifilis pada sifilis dini baik, angka penyembuhan dapat mencapai 100%. Neurosifilis asimtomatik pada stadium lanjut juga baik, kurang dari 1% memerlukan terapi ulang

Prognosis sifilis kongenital dini baik. Pada yang lanjut, prognosis tergantung pada kerusakan yang sudah ada.

K. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum

Kesadaran, status gizi, TB, BB, suhu, TD, nadi, respirasi

b. Pemeriksaan sistemik

Kepala (mata, hidung, telinga, gigi&mulut), leher (terdapat perbesaran tyroid atau tidak), tengkuk, dada (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), genitalia, ekstremitas atas dan bawah.

c.Pemeriksaan penunjang

- Pemeriksaan laboratorium (kimia darah, ureum, kreatinin, GDS, analisa urin, darah rutin)

2. Diagnosa Keperawatan & Intervensi

a. Nyeri kronis b.d adanya lesi pada jaringan

Tujuan: nyeri klien hilang dan kenyamanan terpenuhi

Kriteria:

- Nyeri klien berkurang

- Ekspresi wajah klien tidak kesakitan

- Keluhan klien berkurang

Intervensi:

- Kaji riwayat nyeri dan respon terhadap nyeri

- Kaji kebutuhan yang dapat mengurangi nyeri dan jelaskan tentang teknik mengurangi nyeri dan penyebab nyeri

- Ciptakan lingkungan yang nyaman (mengganti alat tenun)

- Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan

- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik

b. Hipertermi b.d proses infeksi

Tujuan: klien akan memiliki suhu tubuh normal

Kriteria:

- Suhu 36–37 °C

- Klien tidak menggigil

- Klien dapat istirahat dengan tenang

Intervensi:

- Observasi keadaan umum klien dengan tanda vital tiap 2 jam sekali

- Berikan antipiretik sesuai anjuran dokter dan monitor keefektifan 30-60 menit kemudian

- Berikan kompres di dahi dan lengan

- Anjurkan agar klien menggunakan pakaian yang tipis dan longgar

- Berikan minum yang banyak pada klien

c. Cemas b.d proses penyakit

Tujuan: cemas berkurang atau hilang

Kriteria:

- Klien merasa rileks

- Vital sign dalam keadaan normal

- Klien dapat menerima dirinya apa adanya

Intervensi:

- Kaji tingkat ketakutan dengan cara pendekatan dan bina hubungan saling percaya

- Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta menjauhkan benda-benda berbahaya

- Libatkan klien dan keluarga dalam prosedur pelaksanaan dan perawatan

- Ajarkan penggunaan relaksasi

- Beritahu tentang penyakit klien dan tindakan yang akan dilakukan secara sederhana.

L. DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
Baca selengkapnya - Askep Sifilis

KOTAK PENCARIAN:

ARTIKEL YANG BERHUBUNGAN:

=====
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...