JAKARTA, KOMPAS.com - Sesendok beras hitam varietas eksotis dari Asia ternyata mengandung gizi melebih apa yang sering didengung-dengungkan sebagai makanan super. Lupakan buah blueberry atau blackberry, beras hitam adalah makanan super baru, demikian klaim para ilmuwan seperti yang disiarkan situs The Telegraph, Kamis (26/8/2010).
Beras hitam, yang bisa dihancurkan menjadi bubuk, juga dikenal dengan nama 'Beras Terlarang' karena para bangsawan pada masa China kuno melarang masyarakat jelata mengkonsumsi jenis panganan itu.
"Hanya sesendok penuh bubuk beras hitam bisa mengandung lebih banyak antioksidan antosianin dari yang ditemukan di sesendok penuh blueberry, dengan kandungan gula yang lebih rendah, lebih berserat, dan mengandung vitamin E," kata Dr. Zhimin Xu, dari Luisiana State University.
"Jika blueberry dan blackberry biasa digunakan untuk meningkatkan kesehatan mengapa beras hitam dan bubuknya tidak? Terutama tepung beras hitam yang akan menjadi bahan yang unik dan bernilai ekonomis untuk meningkatkan konsumsi antioksidan," papar Xu lebih lanjut.
Layaknya buah-buahan, beras hitam mengandung antioksidan antosianin, zat yang bisa menangulangi serangan jantung, kanker, dan penyakit lainnya. Pabrikan makanan bisa menggunakan tepung beras hitam atau ekstraknya untuk membuat sereal sarapan yang sehat, minuman, kue, dan makanan lainnya.
Dr. Xu yang melaporkan penemuannya itu ke konfrensi American Chemical Society di Boston, Amerika Serikat itu, mengatakan bahwa para petani tertarik untuk membudidayakan beras hitam sehingga membuat biayanya lebih efektif.
asuhan keperawatan askep pengertian penyebab etiologi patofisiologi pathway tanda gejala pemeriksaan penunjang tinjauan teoritis pengkajian chf hipertensi flu babi gastritis hiv aids impetigo kehamilan normal nutrisi nyeri osteoartritis osteomielitis hipertensi pankreatitis parkinson penyakit jantung koroner perioperati peritonitis pneumonia ppok ppom rematik retinoblastoma sinusitis skizofrenia sle talasemia tbc tetanus thalasemia tonsilitis tuberculosis tuberkulosis urtikaria urtikaria vertigo
Beras Hitam Sumber Pangan Bergizi Super
Beras Hitam Sumber Antioksidan Alternatif
TEMPO Interaktif, Louisiana - Para ilmuwan menemukan sumber antioksidan yang tinggi dari bahan murah. Sumber antioksidan berasal dari dedak atau beras hitam. Menurut Zhimin Xu profesor dari Departemen Ilmu Makanan di Louisiana State Agricultural University Center kandungan antioksidan dalam sesendok beras hitam melebihi kandungan antooksidan dalam buah blueberry dan blackberry. Sebelumnya, dua jenis beri ini diktehui memiliki tingkat antioksidan yang tinggi.
”Antioksidan yang banyak adalah dari vitamin E, selain itu beras hitam juga kaya akan serat,” kata dia. Oksidasi adalah proses yang menyebabkan berkurangnya kemampuan tubuh atau penuaan. Contoh dari oksidasi adalah metabolisme tubuh, polusi kendaraan, ponsel atau komputer.
Xu menyarankan beras hitam dan dedak beras hitam bisa digunakan untuk meningkatkan kesehatan laiknya buah buahan jenis beri. "Bekatul dari beras hitam akan menjadi materi yang unik dan ekonomis untuk meningkatkan konsumsi antioksidan ," kata dia.
Studi itu menemukan beras hitam lebih banyak kandungan antioksidannya dibanding beras merah. Beras merah adalah varietas padi paling umum diproduksi di seluruh dunia.
Di Asia, beras hitam adalah paling sering digunakan untuk hiasan makanan, seperti mie atau sushi. Salah satu varietas padi hitam dikenal sebagai "Forbidden Rice". Dalam tradisi Cina kuno, beras hitam untuk dimakan oleh para bangsawan. Hasil studi itu akan dirilis dalam pertemuan nasional American Chemical Society di Boston.
Nur Rochmi | Healthday
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/08/27/brk,20100827-274512,id.html
Wah, Beras Hitam Ternyata Makanan Super
(dailymail.co.uk)
INILAH.COM, Jakarta- Lupakan buah blueberry atau blackbery yang dianggap berkasiat tinggi. Ilmuwan menemukan beras hitam sebagai makan super baru.
Satu sendok beras hitam dapat memberikan begitu banyak manfaat kesehatan sehingga dinamakan makanan super. Beras asal Asia yang dihancurkan menjadi pecahan halus ini seringkali dikenal sebagai ‘beras berbahaya’ karena bangsawan China kuno melarang masyarakat biasa memakan beras tersebut. Siapapun yang melanggar akan dihukum.
“Satu sendok beras hitam halus mengandung lebih banyak antioksidan antosianin yang berguna bagi kesehatan dibandingkan Anda mengkonsumsi satu sendok blueberry. Tidak hanya itu, beras ini mengandung sedikit gula, lebih banyak serat dan antioksidan vitamin E,” kata Dr Zhimin Xu di Louisiana State University.
“Serbuk beras hitam akan menjadi materi yang unik dan ekonomis dalam meningkatkan konsumsi antioksidan demi menjaga kesehatan,” ujar Xu lagi.
Seperti buah, beras hitam memiliki substansi yang sama menjanjikannya dengan produk yang berguna untuk memerangi penyakit jantung, kanker dan lainnya.
Pabrik makanan berpotensi menggunakan beras hitam atau bahan ekstraksi lain untuk mengembangkan produk kesehatan di makanan cepat saji pagi hari, kue, cookies dan cemilan lainnya.
Penelitian Dr Xu ini dipublikasikan pada konferensi American Chemical Society di Boston.[ito]
Sumber: http://www.inilah.com/news/read/teknologi/2010/08/27/776141/wah-beras-hitam-ternyata-makanan-super/
Beras Hitam Baik untuk Kesehatan
Beras hitam, yang bisa dihancurkan menjadi bubuk, juga dikenal dengan nama beras terlarang. Sebab, para bangsawan pada masa Cina kuno melarang masyarakat jelata mengkonsumsi jenis panganan itu.
"Hanya sesendok penuh bubuk beras hitam bisa mengandung lebih banyak antioksidan dari yang ditemukan di sesendok penuh blueberry. Kandungan gula yang lebih rendah, lebih berserat, dan mengandung vitamin E," kata Zhimin Xu.
Layaknya buah-buahan, lanjut Zhimin Xu, beras hitam mengandung antioksidan antosianin, zat yang bisa menangulangi serangan jantung, kanker, dan penyakit lain. Tak hanya itu, pabrik makanan juga bisa menggunakan tepung beras hitam untuk membuat sereal sarapan yang sehat, minuman, kue, atau makanan lain.
Saat ini, kata Zhimin Xu, petani tertarik untuk membudidayakan beras hitam. Selain bermanfaat, biayanya juga lebih murah dibanding beras biasa.(ULF/Ant/The Telegraph)
Sumber: http://kesehatan.liputan6.com/berita/201008/293434/Beras.Hitam.Baik.untuk.Kesehatan
Kemkes Gelar Posko Kesehatan
JAKARTA (Pos Kota) – Menghadapi persiapan arus mudik Lebaran 2010, Kementerian Kesehatan (Kemkes) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah menggelar Posko Kesehatan atau Unit Pelayanan Kesehatan 24 jam pada jalur mudik di seluruh Indonesia.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan, untuk jalur Jawa-Lampung telah disiapkan 3.719 Puskesmas, 500 Pos Kesehatan terdiri dari 418 Dinas Kesehatan dan 82 Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), 1.229 ambulans Puskesmas serta 98 rumah sakit pemerintah plus ambulans.
“Kesiapan Posko Kesehatan punya nilai strategis,” ucap Endang usai apel siaga Kesiapan Pelayanan Kesehatan Mudik Lebaran, Jumat (27/8) di Jakarta.
Menurut Menkes, tradisi mudik bersinggungan dengan penanganan resiko sakit dan meninggal yang besar. Lantaran itu penting mempersiapkan dan memobilisasi sumber daya, khususnya kesiapan tenaga kesehatan, peralatan dan obat serta ambulans dan system.
”Kesiapan ini merupakan respons medis yang sering kali menjadi sorotan dramatis bila terjadi kecelakan lalu lintas,” imbuh dia.
Menkes mengatakan, lewat pembentukan posko dan unit layanan kesehatan 24 jam diharapkan dapat menurunkan tingkat kesakitan, kecacatan, dan kematian.
Di samping menyediakan persiapan bila terjadi kecelakaan, juga disiapkan pusat layanan kesehatan untuk menaggulangi kejadian penyakit menular yang berpotensial menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) terutama diare dan keracunan makanan.
”Karena yang mudik ribuan, maka secara epidemiologis kejadian wabah penyakit menular mungkin terjadi. Bila ini diabaikan, maka bisa-bisa korbanya lebih banyak daripada jumlah kecelakaan lalu lintas,” ujar Menkes.
Selain menyiapkan pos kesehatan di jalan, kementerian juga menyediakan Pusat Tanggap dan Respons Cepat (PTRC) sebagai posko informasi dengan nomor telepon (021) 500587.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pembentukan layanan kesehatan mudik lebaran tingkat nasional ini baru pertama kali dilaksanakan. Pelaksanaan kegiatan ini menurut dia sesuai dengan amanat Inpres No 3/2004.
(aby/sir)
Taufik Kurniawan Upayakan Jamkesmas untuk Rakyat
Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=260731
Kustantinah: Makanan Impor Membludak, Inspeksi Mendadak Ditingkatkan
Lembaga yang dikomandoi Kustantinah itu, bukan hanya menginspeksi makanan impor, tapi juga makanan produk dalam negeri, terutama yang sudah dikemas dalam bentuk parsel.
“Inspeksi memang sudah rutin kami lakukan, tapi menjelang lebaran ini tentu permintaan makanan juga meningkat, sehingga wajar kalau inspeksi mendadak juga ditingkatkan,’’ ujar Kepala BPOM, Kustantinah, kepada Rakyat Merdeka, di ruang kerjanya, Jakarta, Kamis (26/8).
Berikut kutipan selengkapnya:
Menjelang lebaran, apa saja yang telah dilakukan BPOM untuk mengantisipasi makanan kedaluarsa dan makanan berformalin ?
Sebetulnya itu kan suatu tugas dan tanggung jawab BPOM melakukan jaminan bahwa produk yang beredar itu aman. Nah, kalau kaitannya menjelang hari raya, biasanya permintaan pangan itu pasti akan meningkat, sehingga pemeriksaan (inspeksi) harus lebih intensif lagi.
Siapa saja melakukan inspeksi ?
Biasanya inspeksi itu dilakukan oleh balai besar POM yang ada di 31 provinsi. Itu adalah pelaksana teknis kita. Jadi, beberapa data yang ada di kita merupakan hasil temuan balai-balai itu. Misalnya saja makanan yang kedaluarsa.
Makanan kedaluasa itu diapain ?
Ditarik dari peredaran, supaya jangan dibeli. Sebab, makanan kedaluasa itu berbahaya kalau dikonsumsi.
O ya, banyak makanan produk luar negeri membanjiri swalayan di sini, bagaimana tuh ?
Pada prinsipnya bahwa semua makanan, apakah import atau produksi dalam negeri, sebelum diedarkan harus mendapatkan izin edar dari BPOM. Untuk kita lakukan evaluasi terhadap data keamanan, manfaat, mutu, dan labelnya.
Kapan biasanya dilakukan evaluasi ?
Biasanya kita melakukannya akhir Minggu atau setiap hari. Jadi Minggu ini atau Minggu depan kita kasih tahu datanya.
Sejak kapan BPOM melakukan evaluasi ?
13 Agustus lalu kita sudah melakukan psikotest, di situ kita lakukan pembuktian data dari Januari sampai Juli 2010 untuk semester pertama. Setelah 13 Agustus kita akan evaluasi akhir Minggu ini. Jadi setiap periodik kita lakukan evaluasi hasil temuan BPOM seluruh Indonesia.
Bagaimana dengan makanan impor yang masih menggunakan bahasa asing ?
Sebenarnya pemberian izin edar dilakukan evaluasi terlebih dahulu. Termasuk di dalam kemasannya. Memang dari temuan-temuan kita di lapangan, ada produk yang kemasannya tidak sesuai dengan apa yang telah disetujui pada saat pemberian izin edarnya itu.
Tindakan apa yang dilakukan ?
Ya kita suruh tarik makanannya. Untuk segera menyesuaikan dengan apa yang kita setujui.
Kenapa BPOM bisa kecolongan ya ?
Saya tidak tahu kecolongan atau tidak. Sebetulnya itu bukan hanya tugas dari BPOM. Pelaku usaha juga punya tanggung jawab. Sebab pelaku usaha yang punya label tanggung jawab utama pada produk yang diedarkan. Maka harus memenuhi aturan. Nggak mungkin kita melakukan pengawasan terhadap semua makanan yang beredar.
Ada nggak sih pengawasan dari BPOM ?
Ada dong, kita sudah membuat suatu sistem pengawasan dengan tiga lapis. Pertama, yang dilakukan pemerintah. Kedua, yang dilakukan pelaku usaha. Ketiga, pengawasan dari masyarakat atau konsumen. Kalau lihat produk tidak ada izin edarnya dari BPOM, dan sudah rusak jangan dibeli. Segera laporkan ke dinas kesehatan atau balai POM. Maka kita akan menindaklanjuti dengan meminta tanggung jawab yang punya. Lagipula kalau produk itu tidak ada yang beli maka tidak akan beredar.
Jenis-jenis makanan apa yang diperiksa BPOM ?
Biasanya yang kita utamakan adalah makanan hantaran. Seperti biscuit, sirup, produk susu, permen dan minuman ringan. Sebab, makanan itu yang paling laku menjelang hari raya.
Adakah reaksi dari para pelaku ketika melakukan pembongkaran parsel ?
Tidak, sepanjang kita menunjukkan surat perintah dari BPOM untuk melakukan pengujian atau pengecekan makanan. Sebab, petugas BPOM harus punya identitas.
Bagaimana dengan penolakan dari pelaku usaha ?
Itu sudah biasa ditolak. Tapi kita bisa perkarakan kalau mereka menolak. Sebab, kita dilindungi Undang-undang dan diatur kewenangan dari tugas BPOM.
Apa yang harus diwaspai ketika membeli makanan menjelang lebaran ?
Konsumen harus memiliki kesadaran tinggi dalam membeli makanan dan memilih makanan yang didapatkan.
O ya, bagaimana dengan makanan berformalin ?
Semuanya harus ada bukti dulu. Kalau orang menduga boleh saja, tapi harus dibuktikan apakah makanan itu berformalin. Kita harus berbicara secara ilmiah. Artinya harus ada bukti.
Sebab, formalin itu tidak terlihat dengan kasat mata, maka harus diujikan oleh laboratorium. Setelah terbukti mengandung bahan yang tidak diperbolehkan, kita lakukan langkah-langkah penindakan.
Apa yang harus diwaspadai ?
Makanan yang berwarna merah.
Kok begitu ?
Menurut pengalaman saat dilakukan pengujian laboratorium yang digunakan untuk zat warnanya, bukan zat warna pangan. Tetapi tidak semua merah itu berbahaya. Makanya saya tadi bilang, harus dilakukan dulu pengujian di laboratorium. [RM]
sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=2407
Pemanfaatan Obat Tradisional dalam Praktik Kesehatan Akan Ditingkatkan
TEMPO Interaktif, Karanganyar – Obat-obatan tradisional sudah sejak lama digunakan sebagai penyembuh untuk berbagai penyakit. Hanya, penggunaannya secara luas berada di bawah bayang-bayang obat-obatan modern. Karena itu, hingga kini belum banyak digunakan dalam praktik pelayanan kesehatan. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui jika obat tradisional belum menjadi salah satu pilihan di bidang penyembuhan kesehatan.
Hal itu disebabkan minimnya penelitian tentang khasiat tanaman obat untuk dijadikan obat tradisional. “Sehingga saya berharap kehadiran Balai Besar ini dapat mendorong pemanfaatan obat tradisional di masyarakat,” katanya kepada wartawan, seusai peresmian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di Tawangmangu, Karanganyar, Rabu (25/8).
Balai besar bertujuan untuk meneliti tanaman obat, untuk dikembangkan ke arah produksi. “Sifatnya memang masih penelitian dan pengembangan. Belum produksi. Kalau sudah menemukan formulanya, baru dibuat dalam skala kecil dan ditawarkan ke pabrik,” ujarnya.
Tidak hanya itu, nantinya di tiap pusat kesehatan masyarakat disediakan pojok jamu dan terserah pasien untuk memilih pengobatan yang cocok. Pengembangan obat tradisional juga didukung dengan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengobat Tradisional yang mengatur penggunaannya dalam praktik pelayanan kesehatan. “Saat ini konsepnya sudah ada. Kami melibatkan tenaga ahli dari UI (Universitas Indonesia), ITB (Institut Teknologi Bandung), UGM (Universitas Gadjah Mada), dan UNS (Universitas Sebelas Maret),” jelasnya.
Bupati Karanganyar Rina Iriani mengaku sudah mengembangkan klaster biofarmaka di 6 kecamatan, yaitu Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, Kerjo, Mojogedang, dan Ngargoyoso. “Tanaman obat yang ditanam seperti kunyit, kencur, dan jahe,” ujarnya, yang turut menghadiri peresmian. Hasilnya kemudian ditawarkan ke perusahaan jamu skala besar seperti Sido Muncul untuk kunyit.
Dia juga sudah meminta tiap keluarga untuk menanam tanaman obat di pekarangan rumahnya. Tiap poliklinik desa atau puskesmas juga diminta menjual obat tradisional. “Sekarang ini kami memiliki 9.200 kader kesehatan di 177 desa/kelurahan. Salah satu tugasnya sosialisasi tentang penggunaan obat tradisional,” terangnya.
Menteri Endang mengatakan targetnya dalam setahun mampu meneliti minimal dua tanaman obat dan menghasilkan 5 formula obat tradisional. Di Balai Besar sendiri terdapat 1.100 jenis tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan menjadi obat tradisional.
UKKY PRIMARTANTYO
Belajar dari Klinik Gizi Buruk Losari
Pencapaian itu antara lain prevalensi anak balita dengan
Walaupun sebenarnya harus lebih bekerja keras lagi karena target tahun 2010 ini sebesar 15,5%. Penanganan terhadap gizi buruk pada bayi dan balita menjadi sangat penting, mengingat kontribusi status gizi buruk memungkinkan terjadinya kematian pada bayi dan balita.
Penurunan angka kematian bayi dan balita juga merupakan target MDGs sasaran keempat. Target angka kematian anak di bawah umur lima tahun yang harus dicapai pada tahun 2015 sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup. Sebuah perjuangan yang cukup berat mengingat pencapaian angka kematian anak tersebut baru 44 per 1.000 kelahiran hidup pada 2007.
Mendongkrak target MDGs bukanlah hal gampang, dibutuhkan pemimpin yang mengedepankan kerja kreasi bukan birokrasi. Tidak mudah memang menumbuhkan jenis kepemimpinan seperti ini, yang mampu menerobos kebuntuan birokrasi. Di sisi lain harus pandai memilih program apa saja yang mampu mendongkrak target tersebut.
Sekadar contoh, belajarlah dari Puskesmas Losari Kabupaten Brebes yang berhasil mengembangkan klinik gizi buruk. Pahitnya berita mengenai nasi aking yang dikonsumsi warga binaannya dan ditemukannya anak dengan gizi buruk, membuat dokter Liliana sebagai pimpinan puskesmas, mesti berpikir keras untuk menuntaskan permasalahan ini.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka pimpinan beserta staf puskesmas memutuskan untuk menggagas dibentuknya klinik gizi buruk. Tidak ada dana operasional sepeser pun ketika program dimulai, April 2008. Dana dihimpun melalui oegawai puskesmas dengan menyisihkan sedikit pendapatan mereka ketika menerima berbagai macam insentif, seperti gaji ke-13, tunjangan penghasilan, ataupun dari pengunjung puskesmas.
Disediakan kotak untuk menampung dana tersebut. Dalam perjalanannya, sempat kotak berisi uang tersebut ’’digondol maling’’, sebuah romantika perjuangan pun mewarnai perjalanan keberhasilan program ini.
Dibantu Karyawan Klinik gizi buruk dibuka tiap Jumat dan Sabtu. Bayi dan balita diperiksa secara rutin seminggu sekali, kemudian diberi makanan tambahan berupa susu, bubur susu, ataupun biskuit. Ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK), yang akan berpengaruh terhadap status gizi bayinya, tiap bulan diperiksa kadar haemoglobin (hb) dan tiap minggu diberi susu.
Penemuan kasus gizi buruk dilakukan oleh bidan yang tersebar di desa yang berada di wilayah kerja puskesmas. Tidak jarang tokoh masyarakat ataupun warga setempat melaporkan. Terkadang bagi warga yang berhasil menemukan kasus gizi buruk, diberikan insentif sekadarnya. Tidak semua kasus gizi buruk dapat tertangani dengan baik. Pada April 2009 kasus gizi buruk yang meninggal tercatat dua balita, sedangkan Februari 2010 meninggal satu balita.
Sampai saat ini, klinik gizi buruk di Puskesmas Losari Kabupaten Brebes masih mengandalkan uluran tangan karyawan untuk menyisihkan sebagian pendapatannya ataupun pengunjung puskesmas.
Padahal, klinik ini mempunyai prospek yang menjanjikan, paling tidak sudah beberapa daerah dari luar Brebes yang berkunjung untuk mengadopsi bagaimana caranya menangani kasus gizi buruk di luar mainstream yang telah digariskan dari atas. Diperlukan komitmen yang jelas dari berbagai pihak untuk memajukan klinik ini sehingga mampu mendorong tumbuhnya terobosan baru sebagai bentuk rencana aksi daerah dalam mempercepat target MDGs.
Permasalahan yang lain, kita tidak terbiasa mengapresiasi dan menghargai terhadap kerja kreatif seperti ini. Kita terpola lebih asyik mengerjakan hal-hal yang bersifat rutin. Harus sesuai birokrasi, tidak berani berbeda menangani masalah. Terbukti, pekerjaan rutin yang kita lakukan selama ini, tidak menghasilkan apa-apa.
’’Lesson learn’’ klinik gizi buruk di Puskesmas Losari itu mampu membuktikan bahwa biaya yang murah melalui program yang sangat sederhana pun mampu mengatasi masalah tanpa harus menunggu bantuan konsultan yang mahal itu dan kucuran dana dari negara asing sekali pun. Saat ini, berkreasi menjadi sangat penting mengingat, boleh jadi rutinitas akan membunuh ide-ide cemerlang kita. (10)
— Awaluddin Abdussalam, peserta Lokakarya Program Percepatan Pencapaian MDG4-Reach di Bandung, Kasi Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Brebes.
Biaya Kesehatan Mahal, Pemerintah Perlu Menggalakkan Asuransi
"Biaya kesehatan semakin mahal. Kasihan masyarakat golongan ekonomi lemah, karena semakin sulit menjangkau biaya berobat," ujar peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Kementerian Kesehatan RI, Dr Bona Simanungkalit di Bogor, Jawa Barat, Ahad (22/8).
Bona Simanungkalit melanjutkan, "Pemerintah perlu melakukan terobosan, agar masalah biaya kesehatan yang semakin tinggi dapat diatasi."
Terobosan program yang dapat dilakukan pemerintah yaitu dengan pengembangkan program asurani kesehatan bagi semua masyarakat.
"Masalah kesehatan sama dengan pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Negara perlu memberikan porsi perhatian yang besar, karena menyangkut kesejahteraan rakyat," ujar Bon Simanungkalit.
Bona Simanungkalit menyarankan agar ke depan pemerintah menggalakkan program asuransi kesehatan yang dapat mencakup semua warga bangsa. Adanya program asuransi tersebut, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesehatan.
Pengembangan asuransi yang mencakup semua yang dimaksud Bona yaitu diharuskannya semua warga negara menjadi nasabah asuransi kesehatan. "Perlu dikembangkan asuransi kesehatan yang dikelola secara langsung olegh negara. Semua nasabah harus memberikan iuran bulanan atau tahunan," ujarnya.
Pemungutan iuran asuransi tersebut, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dari masing-masing nasabah. "Kartu asuransi dibawa saat berobat. Siapapun yang berobat harus dilengkapi kartu asuransi. Dengan begitu biaya kesehatan akan jauh lebih terjangkau," paparnya.
Selain itu, iklim dunia kesehatan nasional juga akan semakin membaik dan berpihak kepada masyarakat, karena dokter dan semua yang bekerja di sektor kesehatan akan berorioentasi pada pelayanan masyarakat.
"Kalau pengembangana asuransi terpadu dapat dilakukan dengan baik, biaya berobat akan lebih terjangkau. Dokter dan semua pihak yang terlibat di bidang kesehatan dapat mengambil keuntungan dari asuransi, sehingga akan lebih fokus dalam melayani kesehatan masyarakat," begitu kata Bona.(Ant/BEY)