Terlalu selektif pilih makanan sehat? jangan-jangan orthorexia

ANTARA News - Nasional - Kesehatan
ANTARA News - Nasional - Kesehatan
Terlalu selektif pilih makanan sehat? jangan-jangan orthorexia
Feb 9th 2012, 20:39

Risiko atas obsesi terhadap makanan sehat ini semakin besar, tatkala makan menjadi aktivitas yang ditakutkan dan menimbulkan rasa bersalah,"

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - Anda mungkin terkejut, bagaimana mungkin mengkonsumsi makanan sehat bisa menyebabkan masalah? Anda susah payah menjaga bentuk tubuh dengan diet, namun itu membawa anda terjebak dalam kelainan perilaku makan.

Cara makan yang sehat dapat menyebabkan masalah bila anda terobsesi untuk memakan makanan "murni"  dan hanya itu yang dikonsumsi setiap harinya. Nama kelainan itu adalah Orthorexia, sebagaimana dilaporkan oleh Doctissimo.

Orthorexia baru-baru ini ditemukan sebagai masalah oleh Dr Steven Bratman yang digambarkan pertama kali  pada 1997. Orthorexia berasal dari bahasa Yunani "orthos" yang berarti benar atau betul, sementara "orexis"  berarti selera makan.

Kelainan perilaku makan ini terjadi karena penderita terobsesi untuk hanya memakan makanan sehat dan berakhir dengan pembatasan berbagai jenis makanan. Penderita orthorexic seringkali melakukan pengecualian terhadap segala makanan dari menu diet mereka yang mengandung pestisida, herbisida dan bahan kimia lain yang terkandung.

Bulimia, anorexia dan orthorexia adalah kelainan perilaku pada pola makan, akan tetapi semuanya berbeda. Penderita anorexia dengan sengaja mengurangi nutrisi pada makanan untuk mengurangi bobot tubuh, sementara penderita bulimia makan secara berlebihan.

"Penderita orthorexia memiliki tujuan untuk hidup sehat. Mereka takut terhadap dampak lingkungan hidup terhadap tubuh mereka. Oleh sebab itu, mereka mencari jalan keluar dengan hanya mengkonsumsi makanan sehat yang berkualitas baik," ujar spesialis dan terapis kelainan makanan Catherine Dijuste.

Yang membedakan orthorexia dengan kelainan perilaku makan lain adalah tidak ada aspek psikologis pada orthorexia."Ini menjadi alasan orthorexia tidak termasuk sebagai penyakit," ujar Dijuste.

Obsesi penderita orthorexia yang hanya ingin mengkonsumsi makanan sehat dapat menimbulkan risiko isolasi sosial. Akan menjadi sulit bahkan tidak mungkin untuk makan di restoran atau di rumah seorang kerabat.

Hal itu terjadi karena para penderita tidak mau mengkonsumsi makanan yang mereka tidak pasti  asalnya atau bagaimana mengolahnya. Ini jelas menimbulkan konsekwensi yang serius atas obsesi terhadap makanan sehat.

Obsesi berlebihan dengan hanya mengkonsumsi makanan sehat, menyebabkan pederita orthorexia terlalu ketat dalam membatasi makan. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan bobot tubuh dan kekurangan nutrisi yang serius. Dr Bratman menjelaskan bahwa ini mengakibatkan dampak yang lebih serius bahkan lebih fatal daripada dampak anorexia nervosa.

Menurut Dijuste, masalah utama lain adalah pendidikan 'diet' yang dberikan kepada anak-anak dari orangtua yang menderita orthorexia.

"Pengidap orthorexia akan menularkan obsesi mereka akan ketakutannya terhadap makanan 'beracun' kepada anak-anak mereka. Risikonya adalah anak-anak dapat menjadi pengidap anorexia atau bulimia saat remaja. Risiko atas obsesi terhadap makanan sehat ini semakin besar, tatkala makan menjadi aktivitas yang ditakutkan dan menimbulkan rasa bersalah," ujar Dijuste.

Mengetahui jumlah penderita orthorexic menjadi sulit, karena ini bukan termasuk sebagai penyakit dan tidak membutuhkan perawatan medis yang profesional. Akan tetapi beberapa studi menunjukan bahwa orthorexia lebih banyak diderita oleh orang dewasa dan mereka yang senang berolahraga secara rutin.

"Untuk remaja ini bisa cara untuk menutupi masalah lain seperti anorexia," ujar Dijuste.

Karena sangat peduli kepada kesehatan, penderita orthorexia seringkali sangat teratur dan cerewet terhadap masalah kesehatan. Mereka mengutamakan kesehatan yang sempurna, berusaha menangkal penyakit dan menjaga tubuh tetap ramping (karena ini dikorelasikan dengan tubuh sehat).

Penderita juga mengembangkan program diet mereka secara serius dan memaksakan diri untuk mengikuti aturan diet tersebut. Mereka akan merasa bersalah bila mengkonsumsi makanan yang dianggap 'racun' dan sebisa mungkin 'memurnikan' tubuh mereka dengan detoksifikasi atau diet ketat.

Penderita orthorexia akan mengurangi konsumsi atau bahkan tidak mengkonsumsi makanan berlemak, gula, garam dan bahan kimia atau apapun yang dianggap termasuk racun untuk tubuh. Mereka seringkali mengkonsumsi produk organik atau bahkan menjadi vegetarian.

Menurut Dijuste, orang yang mengurangi gula dan garam, makanan berlemak dan mengkonsumsi lima porsi buah dan sayur setiap harinya, belum bisa dikategorikan sebagai orthorexia.

"Orang yang menderita orthorexia memiliki pra-kondisi yang sudah ada sebelumnya. Kondisi yang dimaksud adalah kerapuhan pribadi," ujar Dijuste.   Dijuste menjelaskan bahwa orang yang pertahanan dirinya tidak stabil dan sedikit paranoid, akan memproyeksikan masalah mereka kepada makanan. Orang jenis inilah yang menyerupai penderita orthorexia. (M048)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.
If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

No comments:

KOTAK PENCARIAN:

ARTIKEL YANG BERHUBUNGAN:

=====
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...